Tampilkan postingan dengan label 1 syawal 1432 H. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label 1 syawal 1432 H. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 27 Agustus 2011

Bijaksana menyikapi perbedaan 1 syawal 1432 H

Jakarta (ANTARA) - Pemerintah tak bisa memaksakan hasil keputusan sidang itsbat penetapan 1 Syawal 1432 H kepada masyarakat, namun diimbau agar menyikapi perbedaan dengan arif, termasuk dalam perayaan Idul Fitri.
Sementara organisasi massa (ormas) Islam seperti Muhammadiyah telah menetapkan 1 syawal jatuh pada 30 Agustus 2011, kata Kasubdit Pembinaan Syariah dan Hisab Rukyat Kementerian Agama Muhyiddin di Jakarta, Senin.
Pemerintah telah menjadwalkan akan menggelar sidang itsbat penetapan 1 Syawal 1432 H pada Senin, 29 Agustus 2011 mendatang.
"Tapi, pemerintah tak bisa memaksakan hasil keputusan sidang itu kepada masyarakat," kata Muhyiddin lagi.
Kasubdit Pembinaan Syariah dan Hisab Rukyat Kementerian Agama Muhyiddin mengatakan, sidang dilakukan sesuai ketetapan yang berlaku dalam syariat, yaitu penetapan awal bulan, terutama Ramadhan, Syawal, dan Dzulhijah oleh pemerintah.
Sidang itsbat, seperti juga dilakukan tahun-tahun sebelumnya, melibatkan sejumlah pakar hisab rukyat dan instansi yang tergabung dalam Badan Hisab Rukyat (BHR),di antaranya, Observatorium Bosscha ITB, Planetarium Jakarta, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), serta Badan Koordinasi Survei dan Pemetaan Nasional (Bakosurtanal).
Di samping itu, ada 12 titik pengamatan hilal dalam penentuan 1 Syawal.
Titik-titik itu, di antaranya adalah Observatorium Hilal Lhok Nga, Aceh; Pekanbaru, Riau; Menara Timur Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Bandung; Observatorium Bosscha, Lembang, Bandung, Jawa Barat; Pos Observasi Bulan (POB) Bukit Bela-belu, Bantul, Yogyakarta; Mataram, Nusa Tenggara Barat; SPD Lapan , Biak, Papua;

Kemudian Makassar, Sulawesi Selatan; Samarinda, Kalimantan Timur; Nusa Tenggara Barat; Pantai Gebang, Madura; SPD Lapan Pameungpeuk, Garut, Jawa Barat.
Peneliti senior Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) Thomas Djamaluddin menyebutkan, perayaan 1 Syawal 1432 H berpotensi mengalami perbedaan. Pasalnya, hal itu dipicu oleh penggunaan kriteria hilal yang barbeda sebagai acuan penetapan awal Syawal. Bagi mereka yang menggunakan kriteria wujudul hilal dipastikan Idul Fitri jatuh pada 30 Agustus 2011.
Kalangan yang memakai kriteria visibilitas hilal (imkan rukyat), besar kemungkinan berhari raya pada 31 Agustus 2011. Sebab, ketinggian bulan pada 29 Agustus kurang dari dua derajat sehingga tak memungkinkan hilal terlihat dengan mata telanjang. Sementara, batas bulan menurut kriteria tersebut mesti berada di atas dua derajat.
"Jadi, berpotensi berbeda," katanya.
Perbedaan itu, kata Thomas, tak mustahil akan terulang di masa mendatang selama tidak ada kesepakatan tentang kriteria itu. Ia mengusulkan penyamaan sistem kalender Hijriah.
Ia menyebutkan, diperlukan tiga syarat utama untuk mewujudkannya. Indonesia sudah memenuhi dua syarat, yaitu batas wilayah dan otoritas tunggal, dalam hal ini menteri agama. Tetapi, Indonesia belum memiliki kesamaan kriteria.
Penyamaan kriteria itu bisa mengacu pada ketentuan yang berlaku dalam astronomi. Ia mengusulkan kriteria hisab rukyat Indonesia. Kriteria itu yaitu jarak sudut pandang bulan-matahari lebih dari 6,4 derajat dan beda tinggi bulan-matahari lebih dari empat derajat. Upaya penyatuan tersebut tengah ditempuh oleh pemerintah.
"Saya yakin itu akan terealisasi," ia menambahkan.

1 syawal 1432 H pp MUHAMMADIYAH

PP Muhamadiyah Tetapkan Idul Fitri Selasa

Jumat, 26 Agustus 2011 - 16:30 WIB
| More
PP 
Muhamadiyah Tetapkan Idul Fitri Selasa JAKARTA (Pos Kota)- Pimpinan Pusat Muhammadiyah menetapkan bahwa tanggal 1 Syawal 1432 H jatuh pada Selasa 30 Agustus 2011. Penetapan tersebut berdasarkan hasil hisab hakiki wujudul hilal yang dipedomani oleh Majelis Tarjih dan Tajdid PP MUhammadiyah.
“Dengan demikian maka PP Muhammadiyah menetapkan hari raya Idul Fitri jatuh pada Selasa 30 Agustus 2011,” ujar KH Sun’an Miskan Lc, pengurus PP Muhammadiyah wilayah DKI Jakarta didampingi Agustri Sundami, wakil sekretaris, Jumat (26/8).
Belum jelas apakah pemerintah memiliki ketetapan yang sama terhadap hari raya Idul fitri. Karena pemerintah masih harus menunggu sidang rukyat.
KH Sun’an mengakui bahwa adanya dua metologi penghitungan bulan yakni hisab dan rukyat, menyebabkan seringkali muncul perbedaan tanggal dan hari dalam hal menentukan hari raya Idul Fitri. Namun perbedaan tersebut hendaknya tidak perlu diperdebatkan karena keduanya memiliki dasar hukum dan tinjauan ilmu pengetahuan yang kuat.
Bersamaan dengan ditetapkannya hari raya Idul Fitri 1432 H pada Selasa 30 Agustus 2011, PP Muhammadiyah wilayah DKI Jakarta telah menentukan 70 lokasi shalat Idul Fitri yang bisa dimanfaatkan ummat Islam untuk melakukan shalat Ied.
Ke-70 lokasi tersebut terdiri atas masjid dan lapangan yang tersebar di lima wilayah kota. Diantaranya adalah PCM Kramat Raya 49 yang menampilkan imam/khotib Drs Helmi Hidayat, PCM Jalan Garuda 33 Kemayoran dengan imam/khotib AM Fatwa, lapangan masjid Al huda Tebet Timur dengan imam/khotib Drs HM Sukriyanto, masjid Nurul Haq Kebon Baru Jaksel dengan imam/khotib Ir H Satriawan Tanjung, masjid Nurul Amal Kebayoran Baru dengan imam/khotib Drs H Ahmad Fatoni.
Lalu RS Islam Jaktim dengan imam/khotib prof Dr H Agus Suradika, halaman akper Binaman, Rawamangun dengan imam/khotib drs Zamahsari, Lapangan Wijayakusumah kompl Slipi dengan imam/khotib r H Yunan Husen dan sebagainya.
KEMUNGKINAN BERBEDA
Sebelumnya, Majelis Ulama Indonesia (MUI) memperkirakan kemungkinan akan terjadi perbedaan dalam penetapan Idul Fitri 1432 H di antara warga masyarakat. Untuk itu masyarakat diminta  saling menghargai dan menghormati serta mengedepankan ukhuwah (persaudaraan) apabila terjadi perbedaan.
Ketua MUI KH Ma’ruf Amin di Kantor MUI, Jakarta, Jumat siang menjelaskan,  dalam penetapan Idul Fitri ada dua yang dilakukan umat Islam yakni dengan metode wujudul hilal (bulan wujud) di atas ufuk berapa pun tingginya hilal tersebut. “Wujudul hilal ini yang digunakan Muhammadiyah,” Ma’ruf Amin.
Namun, ada juga umat Islam dalam penetapan Idul Fitri dengan metode Rukyatul hilal di mana hilal harus terlihat miniimal dua derajat. Karena perbedaan itu maka kemungkinan umat Islam ada yang melaksanakan Idul Fitri tanggal 30 Agustus, ada yang melaksanakan Idul Fitri tanggal  31 Agustus. (inung/johara/dms)

Rabu, 24 Agustus 2011

perbedaan penentuan 1 syawal 1432 H

Jakarta, CyberNews. Perayaan 1 Syawal 1432 H berpotensi berbeda. Perbedaan itu dipicu oleh penggunaan kriteria hilal yang barbeda sebagai acuan penetapan awal bulan tersebut.
Peneliti senior Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional, Thomas Djamaluddin, menyatakan hal ini, di Jakarta, Minggu (21/8).
Menurut dia, bagi kalangan yang menggunakan kriteria wujudul hilal, yaitu hilal wujud di atas ufuk dengan prinsip wilayatul hukmi Indonesia, dipastikan Idul Fitri jatuh pada tanggal 30 Agustus.
Dia mengatakan, bagi kalangan yang memakai kriteria visibilitas hilal (imkan rukyat), maka besar kemungkinan berhari raya pada 31 Agustus. Pasalnya, ketinggian bulan pada 29 Agustus kurang dari 2 derajat sehingga tak memungkinkan hilal terlihat dengan mata telanjang.
Sementara, batas bulan menurut kriteria tersebut mesti berada pada di atas 2 derajat. "Jadi berpotensi berbeda," katanya.